SUKABUMI — Program revitalisasi satuan pendidikan mulai dilaksanakan di SD Negeri 1 Pondokkaso Landeuh, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2.509.126.332 melalui APBN Tahun Anggaran 2026 untuk mendukung peningkatan sarana dan prasarana sekolah tersebut.
Kepala SDN 1 Pondokkaso Landeuh, Muhamad Cepi Hidayat, M.Pd., memastikan proses pembangunan tidak menghentikan kegiatan belajar mengajar (KBM).Senin (24/8/2026 )
Selama pekerjaan berlangsung, siswa tetap mengikuti pembelajaran secara tatap muka dengan memanfaatkan sejumlah fasilitas pendidikan dan keagamaan di lingkungan sekitar sekolah.
“Tidak ada kebijakan untuk daring. Di satu sisi ini merupakan hak anak. Walaupun ruang sekolah sedang direhabilitasi, hak anak untuk mendapatkan pendidikan tetap harus kita berikan,” ujar Muhamad Cepi.
Program revitalisasi tersebut memiliki masa pelaksanaan 150 hari kalender. Pekerjaan meliputi pembangunan tiga ruang kelas baru (RKB), dua toilet, rehabilitasi delapan ruang kelas, serta penataan lingkungan sekolah.
Muhamad Cepi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan stakeholder terkait yang telah mendukung kegiatan ini. Kami bersyukur dipercaya untuk melaksanakan revitalisasi di SDN 1 Pondokkaso Landeuh,” katanya.
Menurut dia, revitalisasi bukan sekadar memperbaiki bangunan sekolah. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung proses belajar siswa.
“Kami ingin anak-anak mendapatkan proses pembelajaran yang baik dengan sarana dan prasarana yang memadai,” ujarnya.
Dikerjakan Secara Swakelola
Muhamad Cepi menjelaskan, berdasarkan petunjuk teknis dan hasil bimbingan teknis, pelaksanaan revitalisasi dilakukan secara swakelola melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).
Dalam prosesnya, pihak sekolah melibatkan komite, orang tua siswa, masyarakat, tokoh masyarakat, serta unsur guru.
Kebutuhan tenaga kerja dan bahan bangunan juga diupayakan berasal dari lingkungan sekitar sekolah, termasuk melibatkan pelaku UMKM setempat.
“Untuk tenaga kerja serta penyuplai bahan bangunan juga kita menggunakan lingkungan dan UMKM yang ada di sekitar sekolah,” jelasnya.
Bangunan Sekolah Memang Membutuhkan Penanganan
Muhamad Cepi mengatakan, sebelum revitalisasi dilakukan, sejumlah bagian bangunan sekolah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai dari rusak ringan hingga rusak sedang.
Namun, ia menegaskan bahwa penetapan SDN 1 Pondokkaso Landeuh sebagai penerima program bukan keputusan pihak sekolah.
“Yang menentukan sekolah mana yang mendapatkan revitalisasi bukan kami, tetapi kebijakan dari pusat berdasarkan analisis prioritas sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian dalam proses penetapan penerima program adalah kesesuaian data sekolah dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan kriteria yang telah ditentukan.
Siswa Belajar di Madrasah dan Musala
Untuk memastikan KBM tetap berlangsung selama pembangunan, pihak sekolah melakukan koordinasi dengan lingkungan sekitar.
Sejumlah kegiatan pembelajaran sementara dilaksanakan di madrasah diniyah dan musala yang berada di sekitar sekolah.
“Kami berkomunikasi dan bekerja sama dengan lingkungan sekitar sekolah. Alhamdulillah, proses pembelajaran tetap bisa dilaksanakan dengan menggunakan madrasah diniyah dan musala yang ada,” ungkap Muhamad Cepi.
Menurutnya, keputusan mempertahankan pembelajaran tatap muka merupakan bagian dari upaya sekolah memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi meski fasilitas sekolah sedang dalam proses pembangunan.
Berharap Revitalisasi Menjangkau Sekolah Lain
Muhamad Cepi yang juga Ketua K3S Kecamatan Parungkuda berharap program revitalisasi dapat terus berlanjut dan menjangkau sekolah lain yang membutuhkan.
Ia mengatakan sejumlah sekolah di Kecamatan Parungkuda sebelumnya telah diusulkan melalui Dinas Pendidikan. Dari enam sekolah yang telah memenuhi proses persyaratan, baru dua sekolah yang memperoleh program revitalisasi.
Selain itu, terdapat kembali undangan dari pemerintah pusat yang mencakup 11 sekolah.
“Kami berharap tahun ini atau tahun depan Kecamatan Parungkuda bisa kembali mendapatkan program revitalisasi. Mudah-mudahan program ini bisa terserap lebih banyak di Kecamatan Parungkuda,” tuturnya.
Ia menilai peningkatan sarana pendidikan merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi penerus.
“Ini untuk anak-anak kita ke depan karena mereka adalah generasi penerus. Kita ingin menciptakan generasi emas,” katanya.
Muhamad Cepi Bantah Isu Pengalihan
Terkait informasi yang menyebut program revitalisasi SDN 1 Pondokkaso Landeuh sebelumnya diperuntukkan bagi sekolah lain dan kemudian dialihkan, Muhamad Cepi meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.
Ia menegaskan, sekolah tidak memiliki kewenangan menentukan penerima program revitalisasi.
“Informasi mengenai pengalihan itu saya rasa sumbernya harus jelas. Yang menentukan sekolah A, B, C atau D mendapatkan program bukan kami, melainkan kebijakan dari pusat berdasarkan prioritas,” ujarnya.
Ia berharap pelaksanaan revitalisasi SDN 1 Pondokkaso Landeuh dapat berjalan lancar, aman, transparan, dan sesuai ketentuan.
“Kami berharap pelaksanaan revitalisasi ini berjalan sesuai harapan bersama, lancar dan aman, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh anak-anak kita,” pungkasnya.
Penulis. Boy
Editor. Lingkarmedia. Net
