SUKABUMI — Malam itu, jerit pecah di atas gelapnya aliran Sungai Cibodas. Sebuah keluarga terjun dari jembatan gantung setinggi sekitar delapan meter setelah lantai kayu yang mereka pijak ambruk. Di bawah hujan dan minim penerangan, warga berlarian melakukan evakuasi seadanya, menyelamatkan korban dari dasar sungai berbatu.
Peristiwa memilukan itu terjadi Jumat malam (15/5/2026) sekitar pukul 20.00 WIB di perbatasan Kecamatan Cidadap dan Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi. Korban diketahui bernama Yono Sutrisno, seorang guru honorer SMPN 2 Cidadap. Ia membonceng istri dan dua anaknya menggunakan sepeda motor saat melintasi Jembatan Gantung Cibodas—akses penghubung yang selama bertahun-tahun disebut warga sebagai “jalur maut”.Minggu (17-5 - 2026 )
Akibat insiden tersebut, Yono mengalami patah tulang serius pada bagian kaki. Istri dan kedua anaknya mengalami luka-luka serta trauma mendalam.
Namun tragedi ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa. Ini adalah potret nyata tentang bagaimana infrastruktur yang dibiarkan rusak selama belasan tahun perlahan berubah menjadi ancaman kematian bagi rakyat kecil.
Jembatan Tua, Ancaman Nyata
Menurut keterangan warga dan tokoh pemuda setempat, kondisi jembatan memang sudah lama memprihatinkan. Usianya disebut telah mencapai lebih dari tiga dekade. Dalam 17 tahun terakhir, kerusakan semakin parah tanpa penanganan permanen.
Lantai kayu banyak yang lapuk dan bolong. Tali seling mulai berkarat. Sebagian penyangga bahkan dikabarkan telah putus. Warga terpaksa melakukan tambal sulam secara swadaya menggunakan bambu dan kayu seadanya agar jembatan tetap bisa dilewati.
Padahal, jembatan itu merupakan akses vital bagi warga dua kecamatan. Anak-anak sekolah melintasinya setiap hari. Petani mengangkut hasil kebun melalui jalur itu. Warga yang sakit pun menggantungkan harapan pada jembatan tersebut untuk menuju fasilitas kesehatan terdekat.
“Kalau jembatan ini benar-benar putus, warga harus memutar sangat jauh. Biaya transportasi naik, akses kesehatan terhambat, ekonomi lumpuh,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.
Detik-Detik Kecelakaan
Berdasarkan informasi di lapangan, hujan yang mengguyur wilayah tersebut membuat permukaan jembatan licin. Saat Yono melintas menggunakan motor matic, kendaraan diduga tergelincir dan tersangkut di bagian lantai jembatan yang rusak.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Cidadap, Yandi, mengatakan korban sempat terjepit sebelum struktur kayu penahan akhirnya patah total.
“Motor tergelincir, lalu tersangkut di bagian lantai yang bolong. Korban sempat tertahan, kemudian kayu penyangga patah dan semuanya jatuh ke bawah,” ujarnya.
Warga sekitar yang mendengar suara benturan langsung berdatangan dan melakukan penyelamatan di tengah kondisi minim cahaya.
Proposal Bertahun-Tahun, Realisasi Tak Pernah Datang
Kemarahan warga memuncak karena kerusakan jembatan sebenarnya sudah berulang kali dilaporkan. Pemerintah desa disebut telah berkali-kali mengajukan proposal perbaikan ke Pemerintah Kabupaten Sukabumi, namun tak kunjung terealisasi.
Pada tahun 2020, sempat muncul harapan ketika proyek Detail Engineering Design (DED) Jembatan Cibodas diumumkan melalui LPSE. Tetapi hingga kini, pembangunan fisik tidak pernah terlihat.
Bagi warga, tragedi ini menjadi bukti bahwa janji pembangunan kerap berhenti di meja administrasi dan konten seremoni.
Antara Janji Politik dan Nyawa Warga
Kini masyarakat mulai mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap wilayah-wilayah terisolasi di Sukabumi.
Nama Dedi Mulyadi dan Asep Japar ikut disorot setelah sebelumnya infrastruktur daerah terpencil sempat menjadi perhatian dalam berbagai pernyataan publik dan media sosial.
Warga mengaku lelah mendengar narasi pembangunan tanpa kepastian nyata di lapangan. Sebab bagi mereka, persoalannya sangat sederhana: setiap hari ada anak sekolah, guru, petani, dan warga sakit yang harus mempertaruhkan nyawa demi melintasi jembatan rapuh itu.
Tragedi di Jembatan Cibodas akhirnya menjadi pengingat keras bahwa rusaknya infrastruktur bukan hanya soal proyek tertunda. Di banyak tempat, itu berarti membiarkan rakyat hidup di tepi maut—menunggu giliran menjadi korban berikutnya.
Reporter: Iim Kaspiana.
Editor:Lingkar media. Net
